|
home>news>

Berita Dari Perwakilan RI

Duta Besar RI Dorong Peran WNI dalam Meningkatkan Citra Indonesia di Provinsi New Brunswick, Kanada

MONCTON, NB - Sebanyak 15 dari 56 WNI yang bermukim di Provinsi New Brunswick bertemu Duta Besar RI, Dr. Teuku Faizasyah dan Ibu Andis Faizasyah serta Sdri. Dinie Arief, Sekretaris Kedua (diplomat muda di KBRI Ottawa) di Moncton, New Brunswick pada 22 Maret 2018.

Duta Besar RI menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Indonesia yang datang memenuhi undangan, meskipun badai salju besar sedang menghantam provinsi tersebut.

Kota Moncton adalah salah satu kota bisnis di Provinsi New Brunswick, Kanada dan merupakan kota dengan konsentrasi WNI terbanyak.

Meski jumlahnya masih terbatas, masyarakat Indonesia di New Brunswick aktif mengikuti berbagai kegiatan kebudayaan tahunan dalam rangka mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Kanada di provinsi tersebut. Setiap tahun kota Moncton, New Brunswick, menjadi “base camp” bertemunya masyarakat Indonesia yang tinggal di Provinsi Nova Scotia dan Provinsi Prince Edward Island.

“Tiap tahun, sekitar bulan Mei-Juli, kami berkumpul dan menikmati musim panas bersama. Selain itu kita turut aktif mempromosikan budaya Indonesia pada acara Cultural Expressions Festival di Fredericton, ibu kota Provinsi New Brunswick” kata Arlin Gurnadi yg sudah lebih dari 5 tahun tinggal di Moncton, NB.

Duta Besar RI menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia di New Brunswick untuk terus menjaga tali silaturahmi dan aktif dalam mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Kanada. Dubes Faizasyah juga menegaskan bahwa setiap WNI dimanapun berada adalah “duta“ Indonesia, dan untuk itu diharapkan dapat senantiasa menampilkan citra positif yang mengakar pada nilai-nilai budaya Indonesia.

“Kami senang sekali bertemu dengan Duta Besar RI beserta Ibu Andis Faizasyah, selain bisa ‘ngobrol’, kami menerima banyak informasi baru dan dapat konsultasi langsung mengenai berbagai isu kekonsuleran” kata Shinta Johanna yang tinggal di kota Saint John, NB.

Selain tatap muka dengan masyarakat, acara silaturahmi juga sekaligus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (Kartu Diaspora), Sistem Informasi Managemen Keimigrasian (SIMKIM), dan persiapan Pemilu 2019. (d.arief ed)

Sumber : ( http://www.indonesia-ottawa.org/2018/03/duta-besar-ri-dorong-peran-wni-dalam-meningkatkan-citra-indonesia-di-provinsi-new-brunswick-kanada/ )

 

Selengkapnya »

Duta Besar RI Cari Peluang Masuknya SDM Indonesia ke Kanada

FREDERICTON,NB – Beberapa sektor utama yang dapat diisi oleh tenaga kerja asing (TKA) di Provinsi New Brunswick, Kanada adalah pada sektor hospitality, IT (termasuk call centre), dan keperawatan (nurse dan caregiver).

“SDM bidang keperawatan di Provinsi New Brunswick mengalami defisit karena peningkatan penduduk usia lanjut. Kami ingin makin banyak masuknya TKA untuk mengisi posisi kerja tersebut” kata Menteri Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Penduduk Provinsi New Brunswick Gilles Lepage.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan di Indonesia yang mengalami surplus profesi nurse dan caregiver. “Dari 43ribu lulusan pendidikan keperawatan di seluruh Indonesia per tahun, hanya 15-17% terserap dalam angkatan kerja. Surplus keahlian tersebut diyakini dapat mengisi kebutuhan untuk profesi tersebut di luar negeri. Perawat Indonesia tergolong berkualitas dengan reputasi yang baik serta diakui sebagai salah satu yang terbaik di Asia Tenggara ” kata Dubes RI Teuku Faizasyah kepada Menteri Lepage saat kunjungan resmi ke Fredericton, NB tanggal 22 Maret 2018.

“Tantangan utama bagi masuknya profesi perawat asing ke Kanada (selain faktor bahasa) adalah kebutuhan penyetaraan/akreditasi profesi”, ungkap VP Academics University of New Brunswick, Dr. George Maclean saat menemui Dubes RI. Menyikapi persyaratan tersebut, diekplorasi beberapa solusi yang dapat diupayakan yaitu dimungkinkannya formulasi program keperawatan antara institusi pendidikan Indonesia dengan Universitas New Brunswick sehingga setelah lulus, dapat langsung bergabung dalam angkatan kerja Kanada.

Opsi lainnya adalah lulusan keperawatan Indonesia mengawali berkarir di Provinsi tersebut sebagai care giver dan selanjutnya mengambil akreditasi sektor keperawatan.

Tertarik dengan potensi kerja sama ketenaga kerjaan dengan Indonesia, Menteri Lepage berniat mengirim misi ketenagakerjaan ke Indonesia tahun ini guna mengekplorasi peningkatan tenaga kerja Indonesia ke Kanada dengan kolaborasi G-to-G dengan Kementerian/Lembaga Indonesia (Kementerian Ketenaga Kerjaan dan BNP2TKI).

Saat ini terdapat sekitar 56 WNI yang tinggal di Provinsi New Brunswick (sebagian besar adalah pekerja profesional dan ibu tumah tangga). Satu diantaranya adalah siswa yang berstudi mengambil program Business Administration di University of New Brunswick. Khairunnisa Intiar, salah satu WNI yang bekerja di kota Moncton, New Brunswick mengatakan masih banyak peluang untuk berhasil di New Brunswick – Itulah alasannya memutuskan untuk menetap di Provinsi ini.

Permasalahan demografi dan pertumbuhan ekonomi yang terbatas dihadapi Provinsi Atlantik Kanada lainnya. New Brunswick dengan penduduk sebanyak 715 ribu, PDB sebesar CA$ 34 juta, dan pertumbuhan PDB sebesar 1,4%, sangat memerlukan masuknya tenaga kerja asing/imigran guna menopang perekonomiannya.

Dua program untuk memudahkan tenaga kerja asing masuk ke New Brunswick adalah melalui Atlantic Immigration Pilot Programme (target masuknya 2000 imigran per tahun) dan Provincial Nominee Programme. Kedua program tersebut mempercepat masuknya TKA dengan waktu proses penerbitan Izin tinggal Permanent Residence (PR) berkisar 6 bulan. Duta Besar RI mengharapkan melalui identifikasi sektor kebutuhan utama TKA dimaksud, dapat lebih banyak WNI yang tertarik untuk berkarir di New Brunswick.

Saat kunjungan resmi, Duta Besar RI juga bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Jasa New Brunswick Serge Rousselle, Walikota Fredericton Mike O’Brian, dan Fredericton Chamber of Commerce guna meningkatkan kerja sama bilateral dalam berbagai bidang. (d.arief ed)

Sumber : ( http://www.indonesia-ottawa.org/2018/03/duta-besar-ri-cari-peluang-masuknya-sdm-indonesia-ke-kanada/ )

Selengkapnya »

Sosialisasi Keimigrasian & Kekonsuleran bagi Masyarakat Indonesia di Vancouver, Kanada

Bertempat di Aula KJRI Vancouver, sekitar 80 orang warga masyarakat Indonesia menghadiri Sosialisasi Kebijakan Keimigrasian dan Kekonsuleran RI pada tanggal 3 November 2017.

Sosialisasi dimaksud bertujuan untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat Indonesia mengenai beberapa kebijakan keimigrasian dan kekonsuleran, seperti Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM), dan Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN). Atase Imigrasi KJRI Los Angeles, Anggiat Napitupulu bertindak sebagai pembicara dalam kesempatan tersebut khususnya terkait kebijakan keimigrasian dalam pemberlakuan SIMKIM yang nantinya akan berdampak langsung bagi masyarakat Indonesia di luar negeri, terutama dalam hal pembuatan paspor RI. Aplikan paspor baru harus datang langsung untuk pengambilan data biometrik rekam wajah dan sidik jari. “Harap dimaklumi bahwa pembuatan paspor dengan SIMKIM memakan waktu yang lebih lama dari sebelumnya namun keamanan dan akurasi dokumen perjalanan RI menjadi lebih baik dan terintegrasi secara internasional”, demikian antara lain paparan yang disampaikan Anggiat Napitupulu saat pertemuan berlangsung. Pembuatan paspor dengan SIMKIM memakan waktu 6 hari setelah data diterima oleh Pusat, sedangkan sebelumnya hanya memerlukan waktu 3 hari.

Beberapa pertanyaan yang mengemuka saat sesi tanya jawab adalah upaya KJRI Vancouver dalam mengantisipasi pembuatan paspor bagi masyarakat yang bermukim cukup jauh sehingga terkendala waktu dan biaya untuk datang langsung ke kantor KJRI Vancouver. Pertanyaan ini ditanggapi dengan rencana pengadaan pelayanan SIMKIM secara mobile ke kantong-kantong masyarakat di wilayah kerja KJRI Vancouver.

Adapun kebijakan RI terkait pembuatan KMILN disampaikan oleh Fungsi Protokol Konsuler KJRI Vancouver, Afina Burhanuddin.

Pada sambutan pembukaan, Konsul Jenderal RI Vancouver, Sri Wiludjeng menghimbau agar masyarakat Indonesia yang hadir dapat memanfaatkan pertemuan dimaksud untuk menggali berbagai informasi terkait kebijakan keimigrasian kepada Atase Imigrasi KJRI LA yang hadir sebagai pembicara. Ditambahkan oleh Konjen RI bahwa, “Pemberlakuan SIMKIM bagi masyarakat Indonesia di luar negeri bukan untuk mempersulit karena harus datang langsung ke kantor KJRI Vancouver, namun dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan bagi perlindungan data pribadi dan penerbitan paspor sebagai dokumen negara”.

Saat ini tercatat sebanyak 6.017 orang Masyarakat Indonesia bermukim di wilayah kerja KJRI Vancouver, yang tersebar di Provinsi British Columbia, Alberta, Yukon dan Northwest Territories. Pada bulan Juni 2016, KJRI Vancouver telah meluncurkan aplikasi Lapor Diri online yang dapat diakses melalui smartphone, sehingga memudahkan warga yang berdomisili jauh dari Vancouver untuk mencatatkan keberadaannya

(Sumber : https://www.kemlu.go.id/vancouver/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/Sosialisasi-Keimigrasian-&-Kekonsuleran-bagi-Masyarakat-Indonesia-di-Vancouver,-Kanada.aspx )

Selengkapnya »

Sosialisasi Kekonsuleran Bagi Masyarakat Indonesia di Calgary, Kanada

Sekitar 50 orang yang mewakili berbagai organisasi masyarakat Indonesia di Calgary, Provinsi Alberta, Kanada menghadiri kegiatan Sosialisasi Kekonsuleran yang diselenggarakan oleh KJRI Vancouver pada tanggal 4 Oktober 2017, bertempat di rumah makan 'Indonesian Kitchen' di Calgary.

Sosialisasi tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat Indonesia mengenai beberapa kebijakan kekonsuleran, seperti Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM), dan Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN). Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan himbauan mengenai pentingnya melakukan Lapor Diri, tidak hanya bagi pendatang baru melainkan juga bagi warga yang pindah alamat maupun yang berubah status. Dengan adanya data yang akurat akan memudahkan bagi KJRI dalam memberikan bantuan dan perlindungan kepada WNI di wilayah kerja, demikian antara lain dikemukakan oleh Afina Burhanuddin, Fungsi Protokol Konsuler KJRI Vancouver yang bertindak sebagai pembicara dalam kesempatan tersebut. Menanggapi informasi yang disampaikan, warga yang hadir secara antusias mengajukan beberapa pertanyaan, antara lain terkait proses pembuatan paspor dalam masa transisi penggunaan SIMKIM, proses pembuatan dan manfaat dari KMILN.

Sebelumnya, acara sosialisasi dibuka oleh Konsul Jenderal RI Vancouver, Sri Wiludjeng, yang antara lain menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada warga masyarakat dan diaspora Indonesia di Calgary yang selama ini secara aktif telah melakukan berbagai kegiatan seni budaya yang dinilai sejalan dengan upaya promosi yang diselenggarakan oleh KJRI Vancouver, sehingga dapat lebih memperkenalkan budaya Indonesia, dan meningkatkan citra positif Indonesia di mata masyarakat setempat.

Dalam catatan KJRI Vancouver, terdapat 548 WNI yang tinggal di Calgary, dengan berbagai profesi, antara lain pelajar, engineer, pakar komputer, juru masak dan perawat. Sebagai kota terbesar di Provinsi Alberta, Calgary dikenal memiliki beberapa keunggulan, antara lain kota terbersih dunia tahun 2007, arsitektur kota yang modern, dan lokasi tempat rekreasi keluarga terbesar di wilayah Barat Kanada.

Masyarakat Indonesia yang tergabung dalam Canadian Indonesian Social Club (CISC) aktif melakukan beberapa kegiatan antara lain pertunjukan kesenian dan bazaar kuliner, sebagaimana penyelenggaraan Cultural Night pada bulan Mei 2017 dengan mendatangkan seniman tari dan koreografer ternama dari Indonesia, Tom Ibnur

(Sumber : http://www.kemlu.go.id/vancouver/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/Sosialisasi-Kekonsuleran-Bagi-Masyarakat-Indonesia-di-Calgary,-Kanada.aspx )

Selengkapnya »