|
home>news>berita:39/KUWAIT>

Filipina ingin Belajar dari Indonesia dalam Menangani Tenaga Kerja dari Indonesia di Luar Negeri.

Duta Besar Filipina untuk Kuwait Renato Pedro Villa bersama dengan para pejabat dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Kesehatan Filipina yang datang dari Manila ke Kuwait telah menemui Duta Besar Indonesia, Tatang Budie Utama Razak di KBRI Kuwait pada hari ini. Kedatangan Duta Besar bersama tim dari Manila menurut Duta Besar Renato adalah untuk belajar dari Indonesia yang dinilainya telah berhasil dalam menangani tenaga kerja Indonesia di Kuwait khususnya di sektor domesik. Filipina saat ini memiliki lebih dari 165 ribu tenaga kerja domestik (PRT) di Kuwait dan setiap tahunnya lebih dari 3000 kasus seperti gaji tidak dibayar, pelecehan seksual dan tindak kekerasan, serta tindakan eksploitasi lainnya.


Duta Besar Renato menyatakan bahwa ia beserta jajarannya pada Kedutaan Besar Filipina di Kuwait selama ini menghadapi masalah yang sangat serius dalam menangani tenaga kerja domestik di Kuwait walaupun berbagai langkah dan upaya telah dilakukan, dalam upaya memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap para pekerja tersebut. Sementara itu ia melihat bahwa Indonesia yang sebelumnya mengalami hal serupa, namun saat ini masalah tenaga kerja domestik Indonesia di Kuwait sudah dapat ditangani dengan baik terutama pasca moratorium pengiriman TKI PRT ke Kuwait tahun 2009. untuk itu kedatangan Dubes Renato bersama tim dari Manila ke KBRI ingin mempelajari kiat-kiat Pemerintah Indonesia khususnya KBRI Kuwait yang dinilainya telah berhasil mengatasi persoalan TKI PRT.


Duta Besar Tatang Budie Utama Razak menjelaskan secara runtut mengenai kebijakan pemerintah Indonesia dalam memberikan pelayanan dan perlindungan khususnya terhadap tenaga kerja domestik dari waktu ke waktu terutama pasca reformasi mulai dari lahirnya UU no 39 tahun 2004, inpres no, 6 tahun 2006, intstruksi Presiden Joko Widodo hingga peraturan Menteri Tenaga Kerja tahun 2015 yang menghentikan pengiriman TKI PRT ke seluruh negara Timur Tengah. Dalam kesemptan tersbut Duta Besar Tatang Razak juga menjelaskan bagaimana langkah-langkah yang diambil oleh Kementerian Luar Negeri dan seluruh Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri termasuk monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pimpinan Kementerian Luar Negeri dari waktu ke waktu.


Langkah dan upaya pemerintah tersebut yang pada awalnya sangat complicated dan tidak mudah, karena pengiriman TKI PRT ke luar negeri yang dimulai pada tahun 1970-an merupakan bisnis besar triliunan rupiah dan melibatkan banyak pihak. Namun dengan kegigihan jajaran pemerintah termasuk Kementrian Luar Negeri dan seluruh Perwakilan Indonesia di luar negeri, kondisi penanganan TKI PRT saat ini jauh lebih baik walaupun masih terdapat sejumlah persoalan yang dihadapi.


Sebelum diberlakukannya penghentian pengiriman TKI PRT ke Kuwait tahun 2009, jumlah TKI PRT lebih dari 70.000 orang dan lebih dari 1.500 orang TKI PRT harus ditampung oleh kbri dengan menyewa satu gedung khusus untuk shelter yang rata-rata dihuni setiap harinya tidak kurang dari 400 orang dengan anggaran yang dikeluarkan pada saat itu lebih dari 10 miliar rupiah.

Para TKI yang ditampung di Shelter KBRI Kuwait adalah mereka yang lari dari majikan karena gaji tidak dibayar selama bertahun-tahun, mengalami tindakan kekerasan, pelecehan seksual dan tindakan ekspolitasi lainnya. Saat ini jumlah TKI PRT di Kuwait kurang dari 4.000 orang, namun tenaga kerja Indonesia profesional, skill dan formal meningkat secara tajam. Sementara itu KBRI kuwait telah berhasil mengukuhkan zero shelter (tidak ada lagi tki yang ditampung di KBRI, begitu pun tenaga kerja ilegal/wni overstayer yang sebelumnya jumlahnya ribuan saat ini tidak lebih dari 100 orang dan anggaran untuk perlindungan pun menyusut secara drastis dari Rp. 10 miliar saat ini kurang dari Rp. 1 miliar, bahkan diperkirakan tahun depan tidak akan lebih dari Rp. 400 juta rupiah. KBRI pun saat ini dapat bekerja lebih fokus kepada kerjasama ekonomi dalam rangka menunjang roda pembangunan Indonesia dalam upaya mensejahterakan rakyat. Sebagai catatan Kuwait merupakan salah satu negara yang paling makmur di dunia dan merupakan investor terkemuka baik di kawasan maupun di dunia dengan nilai mata uang 1 KWD (Kuwait Dinar) saat ini sama dengan Rp.45 ribu.

(Sumber : http://www.kemlu.go.id/kuwaitcity/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/Filipina-ingin-Belajar-dari-Indonesia.aspx )