|
home>News

News From RI representatives

KBRI dan Diaspora Indonesia di Oman Gelar Seminar Pendidikan Anak

KBRI Muscat dan Diaspora Indonesia di Oman kembali berkolaborasi dengan menggelar seminar pendidikan bertema "Mengenalkan Pendidikan Seks Sejak Dini Kepada Anak", bertempat di Gedung Konsuler KBRI pada tanggal 29 April 2017. Seminar ini menghadirkan langsung narasumber pakar pendidikan anak usia dini, Vina Adriany, M.Ed., Ph.D., Ketua Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dari Universitas Pendidikan Indonesia yang saat ini tengah menjadi dosen tamu di Sultan Qaboos University.

Topik seks, khususnya pendidikan seks kepada anak, memang kerap dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Kehadiran seorang ahli seperti Vina Adriany diharapkan dapat menyingkap tabu tersebut dan memberikan edukasi kepada orang tua tentang cara-cara yang tepat dalam memberikan pemahaman tentang seks kepada anak serta melindungi anak dari kekerasan seksual.

Dalam sambutannya ketika membuka acara, Dubes RI untuk Oman, Musthofa Taufik Abdul Latif, mengapresiasi banyaknya kegiatan positif yang telah dilakukan Diaspora Indonesia di Oman. Hal ini diharapkan dapat mempererat hubungan kekeluargaan di antara masyarakat Indonesia di luar negeri. Dubes Musthofa juga menyatakan bahwa topik yang diangkat sangat relevan dengan situasi yang dihadapi orang tua saat ini ketika informasi sangat terbuka dan mudah diakses oleh siapapun, termasuk anak-anak kita.

Para peserta tampak sangat antusias mengikuti seminar yang berlangsung selama dua jam tersebut, khususnya ketika memasuki sesi tanya jawab. Bahkan sebagian dari mereka meminta sesi pribadi dengan narasumber karena keterbatasan waktu yang dialokasikan. Vina sendiri merasa senang bisa membagi ilmunya kepada masyarakat Indonesia di Oman dan menyatakan kesiapan untuk memberikan seminar jarak jauh bagi mereka sekembalinya ke tanah air

(Sumber : http://www.kemlu.go.id/muscat/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/seminar-pendidikan-anak.aspx )

More »

KBRI BERHASIL SELAMATKAN TKI DARI WILAYAH KONFLIK

Pada April lalu, KBRI berhasil menyelamatkan Nita Sari dari Kota Wa’er dan membawanya ke shelter KBRI Damaskus.

Kota Wa’er merupakan satu-satunya wilayah di Provinsi Homs yang masih dikuasai oleh kelompok bersenjata dan masih sering terjadi konflik senjata meskipun telah diupayakan perjanjian damai sejak 2014 lalu.

Nita tiba di Suriah pada 22 April 2009 dan bekerja di Kota Wa’er Provinsi Homs. Dua tahun kemudian, konflik Suriah pecah dan menyebar ke hampir seluruh provinsi Suriah, termasuk Provinsi Homs. Pada tahun 2013, keadaan semakin memburuk dimana jalan keluar-masuk ke Kota Wa’er ditutup sehingga bahan makanan tidak dapat masuk ke dalam kota tsb. Bantuan bahan makanan dari UN (United Nation) dapat masuk ke dalam kota tsb hanya sebulan sekali.

“Untuk bertahan, kami harus menghemat bantuan bahan makanan dari UN. Beberapa orang warga disitu menanam sayur-sayuran sendiri untuk kebutuhan makan mereka” ujar Nita Sari.

Setiap harinya, suara tembakan senjata dan tank merupakan hal yang biasa didengar. Setiap suara itu terdengar, Nita dan majikan berlindung di rumah tetangga yang berada di lantai dasar.

Pada tahun 2015, Rumah majikan Nita runtuh tertembak tank, sehingga dokumen penting termasuk paspor ikut terbakar di dalamnya. Saat kejadian tsb, Nita tengah berlindung di ruangan lantai dasar, sehingga Nita dan majikannya selamat. Selanjutnya Nita dan majikan berlindung ke rumah anak laki-laki majikan.

Nita mengaku bahwa selama bekerja pada majikan, baru dipenuhi gajinya selama 2 tahun yang seluruhnya telah dikirimkan ke Indonesia.

KBRI Damaskus membutuhkan waktu lama dalam upaya penelusuran dan penyelamatan Nita karena sulitnya melakukan kontak di daerah yang terisolasi, disamping KBRI tidak mendapat data yang lengkap dari Indonesia, termasuk nama lengkap Nita Sari.

Setelah berbagai upaya yang dilakukan KBRI melalui koordinasi dengan kontak person KBRI di Homs, Kepala Kepolisian Provinsi Homs, pihak militer, Kementerian Dalam Negeri Suriah, dan Kementerian Luar Negeri Suriah, akhirnya KBRI berhasil menelusuri hingga menyelamatkan Nita dari Kota Wa’er dan membawanya ke shelter KBRI Damaskus.

Keberhasilan mengeluarkan Nita dari daerah konflik yang terkepung merupakan hasil dari hubungan baik yang terus dibina antara KBRI dengan Pemerintah Suriah.

KBRI mensinyalir masih banyak Nita – Nita lain yang terjebak di daerah konflik di Suriah, karena sampai saat ini masih berlangsung pengiriman TKI ke Suriah oleh agen – agen yang tidak bertanggung jawab meskipun konflik di Suriah masih berlangsung.

(Sumber : http://www.kemlu.go.id/damascus/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/KBRI-BERHASIL-SELAMATKAN-TKI-DARI-WILAYAH-KONFLIK.aspx )

More »

76 Dari 1.801 WNIO Ex-Amnesti Dilepas Dubes RI Riyadh

Jum'at, 5 Mei 2017, Dubes Agus Maftuh Abegebriel, Dubes RI untuk Arab Saudi dan OKI, melepas kepulangan sebanyak 76 WNI peserta Amnesti secara resmi. Para WNI tersebut selama ini tinggal dan bekerja di Arab Saudi secara ilegal dalam jangka waktu yang beragam dan kesulitan untuk pulang ke Indonesia karena statusnya yang ilegal tersebut. Dengan adanya program amnesti yang diluncurkan oleh Pemerintah Arab Saudi sejak 29 Maret 2017 hingga 26 Juni 2017, para WNI ilegal tersebut akhirnya bisa kembali ke Indonesia tanpa dikenai denda ataupun kurungan.

Ibu Maya Koyimah Bt. Sahudin, salah satu peserta amnesti yang dilepas oleh Dubes RI, dengan penuh isak haru menyampaikan kebahagiannya karena pada akhirnya dirinya akan segera bertemu dengan anak-anaknya. "Saya bekerja di majikan asli selama 9 bulan, setelah itu saya bekerja kaburan selama 4 tahun 11 bulan. Saya banting tulang disini demi anak-anak saya. Alhamdulillah semua gaji saya telah saya kirim. Dan dengan adanya amnesti ini akhirnya saya akan segera bisa berkumpul kembali dengan anak-anak saya," tutur Maya. "Terima kasih kepada bapak-bapak di KBRI yang telah membantu kami selama proses amnesti ini," sambungnya lagi.

Dubes Maftuh dalam sambutan dan wejangannya menyampaikan bahwa ucapan terima kasih kepada KBRI itu tidak perlu karena KBRI hanya menjalankan kewajibannya. "Justru adalah kebanggan dan kehormatan bagi KBRI bisa melayani para ekspatriat Indonesia yang ada di Arab Saudi, bapak-bapak di KBRI sesungguhnya sedang mengamalkan khairunnas anfa uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya," tutur Dubes Maftuh sambil menyitir sebuah hadis Nabi Muhammad SAW.

Dubes Maftuh menutup sambutannya dengan mendoakan agar kepulangan para WNI peserta amnesti ke Indonesia adalah kepulangan yang membawa berkah dan kebaikan bagi diri mereka dan keluarganya. "Jikapun terpaksa kembali ke Arab Saudi, harus melalui cara yang baik, yaitu cara yang resmi dan sesuai prosedur," pungkas Dubes Maftuh menasehati para WNI tersebut.

Selama program amnesti di Arab Saudi berjalan hingga hari ini, KBRI Riyadh telah melayani pendaftaran 1.801 WNI, dimana sebanyak 1.036 orang diantaranya telah difasililtasi pembuatan exit permit­-nya di Imigrasi Arab Saudi. Dari 1.036 orang yang telah mendapatkan exit permit, sebanyak 225 orang telah pulang ke Indonesia. Diperkirakan jumlah WNI pendaftar amnesti akan mengalami lonjakan signifikan di bulan terakhir pelaksanaan amnesti, yaitu bulan Juni 2017.

(sumber : http://www.kemlu.go.id/riyadh/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/76-Dari-1.801-WNIO-Ex-Amnesti-Dilepas-Dubes-RI-Riyadh.aspx )

More »

Tingkatkan Daya Saing, WNI Sambut Universitas Terbuka di Brunei Darussalam

Minggu malam (2/4), sebanyak 200 orang berkumpul di aula KBRI Bandar Seri Begawan untuk mengikuti sosialisasi Universitas Terbuka (UT) di Brunei Darussalam. Hadir pada kesempatan tersebut, Dr. Tati Rajati, Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh – UT yang datang langsung dari Pontianak. Selain Dr. Tati, hadir juga alumni UT Angkatan I, Ahmad Syahri yang telah berhasil berkarya sebagai Staf Teknis Tenaga Kerja di KBRI Bandar Seri Begawan, dan mahasiswa semester 2 Fakultas Hukum UT di Brunei Darussalam, Aris Purwanto. Keduanya hadir untuk berbagi pengalaman dengan para peserta mengenai motivasi dan cara belajar mereka di UT, khususnya bagaimana berbagi waktu antara kuliah dan bekerja.

Dr. Tati Rajati menyebutkan bahwa UT merupakan jalan keluar bagi semua orang yang ingin meningkatkan jenjang pendidikannya, dimana tidak ada batasan usia mahasiswa dan memberikan keleluasaan dalam tempat dan waktu belajar. Hal ini tentu saja sangat dicari oleh para calon mahasiswa yang sudah bekerja namun masih ingin berkuliah, terlebih lagi UT menawarkan harga yang sangat terjangkau. Dengan berbagai inovasi bantuan belajar yang ditawarkan oleh UT, mahasiswa tidak akan kesulitan untuk belajar, apalagi saat ini UT telah secara maksimal memanfaatkan kemajuan teknologi. Mahasiswa tidak perlu lagi harus datang ke ruang kelas secara fisik, namun mereka dapat berdiskusi secara online dengan dosen dan rekan-rekan di kelas. Boleh dikatakan, UT menciptakan ruang kelas virtual bagi mahasiswa-mahasiswanya.

Sementara itu, Ahmad Syahri dan Aris Purwanto berbagai pengalaman mengenai motivasi mereka bergabung menjadi mahasiswa UT. Ahmad Syahri, yang masuk menjadi mahasiswa UT pada tahun 1985 atau setahun setelah UT resmi didirikan, menyebutkan faktor keleluasaan tempat dan waktu belajar merupakan pertimbangan utamanya memilih UT. Selain itu, Syahri juga mempertimbangkan biaya kuliah yang terjangkau. Begitu ditanya mengenai prospek lulusannya, Syahri menyebutkan bahwa dirinya diterima menjadi PNS dengan menggunakan ijazah sarjana dari UT, dan melanjutkan ke jenjang pasca sarjana di universitas lain menggunakan ijazah yang sama. Artinya, ijazah dan kualitas lulusan UT dapat diterima dengan baik di dunia kerja.

Senada dengan itu, Aris Purwanto juga mengemukakan bahwa keinginan untuk belajar di UT didorong oleh adanya keterbatasan waktunya untuk belajar karena disaat yang sama, Aris harus bekerja menafkahi keluarganya sebagai seorang pekerja swasta di Kuala Belait, Brunei Darussalam. Aris menyebutkan bahwa dirinya harus pintar membagi waktu antara belajar dan bekerja. Baik Syahri maupun Aris sepakat menyebutkan bahwa motivasi dan disiplin waktu belajar adalah kunci utama kesuksesan belajar di UT. Karena seperti yang di ingatkan oleh Dr. Tati Rajati, mahasiswa UT diarahkan belajar mandiri, artinya tidak akan ada figur dosen yang terus menerus mengingatkan mahasiswanya untuk belajar. Semuanya tergantung pada komitmen masing-masing.

Pada sesi diskusi, banyak yang penasaran apa pekerjaan Aris, sebagai contoh mahasiswa UT di Brunei Darussalam. Dengan rendah hati, Aris menyebutkan bahwa dirinya juga hanya buruh biasa namun memiliki tekad untuk maju dan ingin mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan keluarga. Para peserta juga penasaran dengan proses pendaftarannya, dan bahkan beberapa peserta menyatakan keinginannya untuk langsung mendaftar ke UT. Hal ini dijawab oleh Dr. Tati Rajati bahwa pihaknya akan bekerjasama lagi dengan KBRI untuk mengadakan bimbingan registrasi dan mengirimkan petugas teknisnya ke Brunei Darussalam. Di lain pihak, para peserta juga meminta KBRI untuk melakukan sosialisasi seperti ini lagi yang langsung dijawab KBRI bahwa pihaknya memang merencanakan program sosialisasi seperti ini di beberapa tempat pada tahun 2017 ini. Selama ini, KBRI juga memberikan fasilitas tempat dan pengawas ujian bagi mahasiswa UT di Brunei Darussalam.

(sumber : http://kemlu.go.id/id/berita/berita-perwakilan/Pages/Ingin-Maju-dan-Mampu-Bersaing-di-Dunia-Kerja,-Masyarakat-Indonesia-Antusias-Sambut-Universitas-Terbuka-di-Brunei-Darussalam.aspx )

More »

KJRI Kota Kinabalu Sosialisasi Pentingnya Surat Tanda Kelahiran di Beaufort

KJRI Kota Kinabalu gelar kegiatan sosialisasi dan pelayanan penerbitan surat tanda kelahiran bagi anak-anak Warga Negara Indonesia yang berada dan bekerja di Daerah Beaufort, di Pantai Barat (1-2/4). Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggandeng Kerukunan Keluarga Besar Nusa Tenggara di Beaufort (1 April) dan juga pihak guru Community Learning Centre (CLC) yang berada di Lumadan, Beaufort (2 April).

Tim KJRI memaparkan berbagai aspek perlindungan warga negara Indonesia dan jasa kekonsuleran yang dilakukan oleh Konsulat Jenderal RI sebagai wakil pemerintah Indonesia di wilayah Sabah. Dijelaskan juga kepada para hadirin tentang perlunya seseorang anak memiliki Surat Tanda Kelahiran yang dapat dipergunakan oleh ybs untuk berbagai keperluan di masa mendatang.

Selama kegiatan, tim KJRI menyelesaikan permohonan surat tanda kelahiran bagi 288 anak WNI yang lahir di wilayah Sabah, Malaysia, dengan rincian 73 permohonan STK di kegiatan sosialisasi bersama Kerukunan Keluarga Besar Nusa Tenggara (KKBNT) Beaufort dan 215 permohonan STK di Lumadan, Grup Sawit Kinabalu.

Pelayanan Kekonsuleran KJRI Kota Kinabalu disambut antusias oleh para pengurus dan anggota Kerukunan Keluarga Besar Nusa Tenggara WNI/TKI yang berada di wilayah Beaufort dan sekitarnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua KKBNT, Yohanes Ile Tokan Thomas, menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan pelayanan KJRI Kota Kinabalu yang telah memudahkan para anggota KKNBT untuk memiliki surat tanda kelahiran bagi putra putri mereka yang lahir di wilayah Sabah, Malaysia.

Pada kesempatan terpisah, Konjen RI Kota Kinabalu, Akhmad DH. Irfan menyatakan bahwa Tim KJRI akan selalu berhubungan dengan masyarakat yang memohon pelayanan. "Masyarakat banyak yang belum tahu mengenai kegunaan dari berbagai dokumen penting seperti Surat Tanda Kelahiran dan Surat Perkawinan," tuturnya.

Oleh sebab itu, lanjut Akhmad, tim KJRI ditugaskan untuk melakukan kegiatan sosialisasi ke berbagai daerah dalam rangka memberikan informasi tentang pentingnya dokumen tersebut di atas.

"Dan hal itu disambut baik oleh para Warga Negara Indonesia, khususnya para pekerja dan keluarganya yang bekerja dan berdomisili di Sabah," pungkasnya.

(Sumber : http://kemlu.go.id/id/berita/berita-perwakilan/Pages/KJRI-Kota-Kinabalu-Sosialisasi-Pentingnya-Surat-Tanda-Kelahiran-di-Beaufort.aspx )

More »

Menlu Bahas Perlindungan TKI asal Lombok dengan Gubernur NTB

"Perlindungan WNI merupakan prioritas bagi Kementerian Luar Negeri, dan upaya meningkatkan kualitas pelayanan di Perwakilan RI akan terus dilakukan’, demikian Menlu RI Retno Marsudi menyampaikan saat melakukan pertemuan dengan Gubernur NTB di Mataram (31/4). Pada pertemuan tersebut, Menlu RI juga menyampaikan bahwa kerjasama Kemlu dan Pemerintah Daerah sangat penting untuk pembenahan yang dilakukan secara simultan di baik hulu dan hilir.

Secara khusus Menlu RI membahas masalah perlindungan TKI asal NTB yang bekerja di berbagai sektor pekerjaan di Malaysia, khususnya di perkebunan kelapa sawit, selain membahas juga isu perdagangan dan investasi di daerah.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menlu Retno ke Penang dan Johor 15-17 Maret 2016 lalu.

"Saya sudah berjanji kepada TKI kita yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Penang dan Johor untuk bersama-sama pemangku kepentingan di daerah mencarikan solusi dari berbagai keluhan mereka", terang Menlu Retno menjelaskan isi pertemuannya dengan Gubernur NTB.

Sementara itu, Gubernur NTB menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kemlu, atas berbagai upaya perlindungan yang diberikan kepada warga NTB yang mencari nafkah sebagai TKI di luar negeri.

Saat ini, NTB telah memprakarsai pembenahan tata kelola Perlindungan TKI seperti prakarsa Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) yang bahkan dijadikan model di tingkat nasional.

Selain bertemu secara khusus dengan Gubernur NTB, dalam kunjungan ke Mataram Menlu juga berkesempatan menyampaikan keynote speech di depan peserta Rapat Koordinasi dan Bimbingan Teknis Penyelesaian Kasus WNI di Luar Negeri bagi Pemangku Kepentingan di Daerah. Pertemuan yang berlangsung di Mataram (29-31/3) tersebut dihadiri oleh 82 pemangku kepentingan dari Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT.

Terdapat sekitar 1,3 juta TKI yang terdata di Malaysia. Sebagian bekerja di perkebunan-perkebunan kelapa sawit. Sekitar 90% TKI sektor perkebunan di Malaysia berasal dari Lombok.

(Sumber : http://kemlu.go.id/id/berita/Pages/menlu-bahas-perlinfungan-tki-gubernur-ntb.aspx )

More »

Himbauan Kepada WNI di Bahrain

Sebagaimana dimaklumi bahwa tanggal 14 Februari 2011 merupakan hari dimulainya aksi unjuk rasa besar-besaran di Bahrain, menyusul merebaknya gelombang unjuk-rasa di kawasan Timur Tengah yang dikenal dengan "Arab Spring" pada tahun 2011. Sebagaimana terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, dalam beberapa hari yang berdekatan dengan tanggal 14 Februari pihak-pihak anti pemerintah di Bahrain sering kali melakukan unjuk-rasa, yang tidak jarang kemungkinan berkembang mengganggu ketertiban umum.

Sehubungan dengan hal di atas tersebut, sebagai langkah antisipasi, KBRI Manama memandang penting untuk menyampaikan himbauan kepada segenap WNI yang berdomisili di Bahrain, sebagai benikut:

  1. Agar senantiasa waspada dan selalu memantau perkembangan situasi keamanan di wilayah tempat tinggal/bekerja masing-masing.
  2. Agar menghindani kerumunan massa dan daerah-daerah yang menjadi konsentrasi unjuk rasa.
  3. Tidak mendekati/menonton proses unjuk rasa yang dilakukan oleh pihak manapun dan meskipun dilakukan secara damai/tidak ada indikasi akan terjadi bentrokan.
  4. Apabia menemukan benda yang mencurigakan, jangan mencoba untuk mendekati, membuka, menyentuh secara langsung ataupun menggunakan alat bantu. Jika menemukan benda/situasi yang mencurigakan dapat segera menghubungi pihak kepolisian di nomor 999 atau dapat menyampaikan informasi melalui hotline Kepolisian Bahrain di nomor 80008008.
  5. Informasi terkini mengenai kondisi keamanan di Bahrain juga dapat di melalui akun twitter Kementerian Dalam Negeri Bahrain (Ministry of Interior) Bahrain:@moi_bahrain
  6. Mematuhi hukum yang berlaku dan instruksi/himbauan aparat keamanansetempat.
  7. Sekiranya terdapat hal yang perlu diketahui/dilaporkan, mohon dapat melakukan komunikasi dan koordinasi dengan KBRI Manama, dengan alamat:

Villa 2113, Road 2432, Bock 324, Area Juffair, Manama. Tlp. +973-17400164, Fax. +973-17400267, HP. +973-39737478, +973-39387510, +973-39131945, +973-39808474

email : indonesia.manama@batelco.com.bh dan manama.kbri@kemlu.go.id

(sumber : http://www.kemlu.go.id/id/berita/berita-perwakilan/Pages/Himbauan%20Kepada%20WNI%20di%20Bahrain.aspx )

More »

Menlu Retno Tinjau Pusat Pelayanan Pelatihan WNI di Johor Bahru

Menlu Retno L.P. Marsudi meninjau Indonesian Community Centre (ICC), Pusat Pelayanan Pelatihan bagi WNI di Muar, Johor (17/3). Program pelatihan di ICC merupakan pelengkap dari layanan pelatihan dan kesehatan gratis yang diberikan KJRI Johor Bahru kepada WNI.

Menurut Menlu Retno, jenis pelatihan yang disediakan oleh Perwakilan Indonesia di luar negeri disesuaikan dengan kebutuhan para Pekerja Migran Indonesia di setiap negara. Hingga saat ini, di Malaysia terdapat 2 ICC yang telah aktif berjalan. ICC Muar resmi didirikan pada tahun 2016, kemudian dilanjutkan dengan pendirian ICC di Kuantan, Pahang pada 18 Februari 2017.

Selain diadakan di Malaysia, program yang sama telah dikembangkan di Hong Kong dan Singapura.

Pelatihan ini, lanjut Menlu Retno, diharapkan bisa menjadi modal ketrampilan atau berwirausaha bagi para PMI, jika suatu saat ingin kembali ke Tanah Air. Sehingga sekembalinya dari merantau di negeri orang, para PMI ini akan dapat mengembangkan daerah asalnya dan meningkatkan perekonomian daerah.

Pendirian ICC di wilayah kerja KJRI Johor Bahru merupakan wujud partisipasi aktif tokoh-tokoh masyarakat dan diaspora Indonesia untuk bekerjasama memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan WNI di luar negeri.

ICC merupakan wadah interaksi WNI yang berada di negara bagian-negara bagian di Malaysia, salah satu programnya yaitu kegiatan edukatif untuk anak-anak. Melalui ICC ini, anak-anak diperkenalkan dengan materi-materi terkait dengan Indonesia seperti bahasa, sejarah, kewarganegaran dan budaya. Dengan demikian, ketika kembali ke kampung halaman, mereka tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan pendidikan di Indonesia.

"Kami sangat mengapresiasi kerjasama dari tokoh-tokoh masyarakat Indonesia termasuk pula dosen-dosen Indonesia di Universiti Malaysia Pahang yang telah mengupayakan agar ICC ini dapat diselenggarakan di Pahang," jelas Konjen Johor Bahru, Haris Nugroho, saat pembukaan ICC Kuantan, Pahang.

Selain berfokus pada pendidikan, ICC juga memberikan berbagai pelatihan-pelatihan bagi para WNI di sana, salah satu pelatihan yang diberikan di ICC Muar adalah pelatihan alat pendingin ruangan. Program pelatihan di ICC ini merupakan pelengkap dari layanan pelatihan dan kesehatan gratis yang diberikan KJRI Johor Bahru kepada para PMI yang diresmikan oleh Menlu Retno dalam kunjungan yang sama.

(Sumber: http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/Menlu-Retno-Tinjau-Pusat-Pelayanan-Pelatihan-WNI-di-Johor-Bahru.aspx)

More »

Dari Johor Bahru, Menlu Retno Minta Pembayaran Gaji Non Tunai TKI Dijajaki

Menlu Retno L.P. Marsudi meminta agar pihak manajemen, yang mempekerjakan TKI, menjajagi pembayaran gaji non tunai. Hal ini untuk lebih memudahkan dan memberikan keamanan bagi para TKI.

Permintaan ini diutarakan Menlu Retno saat bertemu dengan para TKI Johor Bahru dan manajemen perkebunan kelapa sawit Kulim Berhard, Johor (Kamis, 16/3).

Pesan-pesan perlindungan bagi para TKI juga dititipkan Menlu Retno kepada pihak manajemen.

Kunjungannya ke Johor Bahru dan bertemu dengan para TKI di Ladang Bashir Ismail ini, merupakan rangkaian lawatan Menlu Retno ke Malaysia guna memastikan agenda perlindungan bagi para WNI dan TKI di luar negeri.

Sebelumnya, dalam kunjungan ke Penang, Retno bertemu dengan Menteri Besar Penang, Tun Dato' Haji Abdul Rahman, di Puri Seri Mutiara. Dalam pertemuan itu, Menlu Retno juga menitipkan pesan perlindungan WNI.

Penang dan Johor Bahru merupakan dua negara bagian Malaysua tempat konsentrasi jumlah WNI yang cukup besar. Setidaknya terdapat sekitar 80,000 WNI di Penang dan 347,000 WNI di Johor Bahru. Sebagian besar warga negara Indonesia yang bekerja di Malaysia berada di sektor perkebunan kelapa sawit dan industri manufaktur.

( Sumber : http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/Dari-Johor-Bahru,-Menlu-Retno-Minta-Pembayaran-Gaji-Non-Tunai-TKI-Dijajagi.aspx )

More »

Kunjungi Penang dan Johor Bahru, Menlu RI Tingkatkan Perlindungan dan Pelayanan WNI

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir gelar press briefing pada Rabu siang di Ruang Palapa, Kemlu RI (15/3). Dalam press briefing kali ini, Jubir Kemlu membahas kunjungan 3 hari Menlu RI ke Penang dan Johor Bahru, Malaysia.

Menlu Retno Marsudi kunjungi Penang dan Johor Bahru untuk bertemu dan berdialog dengan para WNI di kedua negara bagian Malaysia tersebut. Kunjungan Menlu bertujuan untuk penguatan perlindungan dan pelayanan WNI di luar negeri, terutama di sentra-sentra TKI. Saat ini, tercatat lebih dari 1,4 juta WNI menetap secara resmi di Malaysia.

Penang dan Johor Bahru merupakan dua negara bagian dimana terdapat konsentrasi jumlah WNI yang cukup besar, setidaknya terdapat sekitar 80,000 WNI di Penang dan 347,000 WNI di Johor Bahru. Sebagian besar warga negara Indonesia yang bekerja di Malaysia berada di sektor perkebunan kelapa sawit dan industri manufaktur.

Dalam kesempatan ini, Menlu Retno bersama tim KJRI turun langsung menemui para TKI di tempat tempat mereka bekerja, antara lain di ladang Pelam KLK, Kedah dan Plexus Riverside, sebuah industri padat teknologi di Penang, Malaysia. Menlu Retno temui manajemen perusahaan dan menitipkan pesan perlindungan bagi para TKI di sana.

Para TKI berbagi kisah dan cerita mereka selama mengadu nasib di negeri Jiran, banyak dari mereka yang berhasil karena masuk secara resmi dan bekerja sesuai dengan peraturan dan ketentuan serta mendapatkan perlindungan yang memadai dari perusahaan tempat mereka bernaung.

Namun, banyaknya jumlah TKI ilegal yang bekerja di Malaysia menghadirkan berbagai permasalahan ketenagakerjaan, seperti gaji yang tidak dibayar, penganiayaan, pelanggaran keimigrasian dan isu perdagangan manusia yang saat ini cukup mengkhawatirkan.

Menlu Retno pastikan negara hadir untuk para WNI dimanapun mereka berada, tiga strategi utama yang selalu menjadi dasar dalam perlindungan WNI adalah (i) tindakan preventif, (ii) deteksi dini dan (iii) immediate response. Untuk itu banyak terobosan-terobosan telah dilakukan oleh perwakilan Indonesia untuk perkuat layanan terhadap para WNI. Termasuk KJRI Penang dan KJRI Johor Bahru yang telah berinovasi untuk meningkatkan sistem pelayanan kekonsuleran dan pelayanan paspor sehingga semakin efektif dan efisien.

Menlu Retno bersama Tim KJRI kembali mensosialisasikan pelayanan kekonsuleran bagi para WNI di Malaysia. Menlu Retno tekankan bahwa perwakilan Indonesia adalah rumah bagi para WNI di luar negeri, dimana para staf di setiap perwakilan akan siap sedia membantu para WNI.

(sumber : http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/Kunjungi-Penang-dan-Johor-Bahru,-Menlu-RI-Tingkatkan-Perlindungan-dan-Pelayanan-WNI.aspx)

More »